Rabu, 02 Maret 2011

Sang Kupu-kupu Doaku

Standard

Perjalanan panjang seekor kupu-kupu yang melewati tahapan yang rumit dan menyakitkan. Perih bukanlah suatu penghalang yang menjadikan kupu-kupu berhenti pada suatu titik dan musnah begitu saja. Mencoba dan mecoba hingga pada akhirnya pada ujung yang tanpa diketahui dan disadari semuanya berubah  begitu cepat dalam nyata dan begitu lambat dalam rambat. Indah, hingga semua mata tertegun memandangnya dan ingin memiliki sayap-sayap berornamen asli ciptaan sang kuasa. Pembelajaran yang mengesankan dari perjalanan yang panjang seekor kupu-kupu meretas mimpi dan kedamaian. Kini semuanya tertulis jelas makna yang aku mengerti dan harus pahami dari kupu-kupu yang kulihat di suatu sore disenja yang temaram di antara buaian bunga-bunga yang tumbuh dipekarangan tetangga. Seharusnya seperti itulah aku menjalani hidup, lebih tabah dan bersabar mengahadapi setiap rintangan yang terkadang membelenggu dan menyiksa batinku. Kenap aku baru mengethaui sekarang? Kata orang “Better to late than never”.  Ada  benarnya  juga apa yang dikatakan kebanyakan orang.  Aku bersyukur dan berdoa supaya perubahan sedikit ini dapat menjadikan kehidupanku lebih baik dari sebelumnya yang ruwet dan bahkan orang memandangnya sebagai sampah. Sampah masa depan dan beban Negara.
Dalam lirih panjang dan nafas yang menghembus aku selalu berdoa : “Tuhan jika ini yang terbaik bagi hambamu yang kotor dan hina ini, aku bersyukur penuh harapan dan mimpi yang semua belum terlaksana, untuk kedua orang tuaku yang tiada hentinya mengalirkan kasih sayang yang tiada terkira ini, untuk mereka yang selalu aku buat susah, untuk mereka yang mengisi dan menginspirasiku, untuk mereka yang telah mencaci makiku, untuk mereka yang telah aku sakiti dan untuk Engkau yang telah aku khianati, dan jika semua ini adalah penggoda semata maka jauhkanlah dan tidak usah dan patut aku menerimanya dan janganlah Engkau menjadikan hambamu ini lebih terisak pedih karena ini. Bukannya aku tak mau, untuk menerimamu kebaikan-Mu tapi aku juga tak sanggup menerima nestapa dari-Mu. Aku hanya seorang yang biasa dan bahkan kotor dimata-Mu. Terima kasih ya Rabb atas semua yang telah membaik. Semoga tetap menjadi yang terbaik.” Amien
Thanks to all,
Bogor, 02 Maret 2011

0 komentar: