Jumat, 16 November 2012

Daun di Ranting Penghujung

Standard
Aku masih juga menatapnya, tapi menyangsikan apakah keberadaanku di sini dirasakan olehnya. Ia masih sama seperti dahulu, sibuk memandangi dedaunan kering yang jatuh tertiup oleh angin.
"Lihatlah, daun itu indah..." Sukma menunjuk daun-daun yang menari karena ditiup angin. Aih, Sukma, lagi-lagi kau mengucap hal yang sama. Tak adakah kau merasakan sedikit empati kepadaku. Aku sudah bosan mendengarmu terus-menerus memuji keindahan daun itu.
 
"Hei, kenapa kau diam saja?" Sukma bertanya kepadaku. Ahh, ini pertanyaan yang diajukan karena untuk pertama kalinya aku tidak merespon pernyataan konyolnya tentang keindahan daun saat jatuh. 
 
"Aku lelah, Sukma... Aku ingin memetik bunga…" wajahku memelas berharap Sukma mengajakku beranjak dari tempat ini. Kulihat Sukma hanya tersenyum. Ah, sungguh aku sudah lelah menantinya mengajakku pergi ke taman bunga itu. memetik catlea ungu dan krisan kuning yang sudah lama aku incar dari dulu. Sama sekali, Sukma tidak merespon permohonanku. 
 
"Baiklah Sukma, izinkan aku untuk pergi sendiri memetik bunga di sana,"

"Baiklah Sukma, izinkan aku untuk pergi sendiri memetik bunga di sana," habis sudah kesabaranku. Akhirnya kuayunkan langkahku menuju taman bunga untuk memetik catlea dan krisan yang telah lama aku impikan. Dalam langkah menjauh darinya, kualihkan pandangan untuk sesaat melihatnya. Dan Sukma masih saja menatap dengan takjub dedaunan yang menari dalam iringan nyanyian angin.

***

Selasa, 13 November 2012

Jumat, 02 November 2012

Sebingkai Asa di Gurun Tandus)*

Standard


Oleh : Rohmad Subhan*

Aku tak akan memaksa, karena yang kutahu cinta adala keikhlasan. Berdasar dari dalam hati yang melahirkan perasaan. Perasaan yang sebenarnya, bukan kehendak yang dipaksakan dan dibuat-buat. Jujurlah pada dirimu sendiri, bagaimana kau harus berkata dan menyatakannya. Aku tahu perjalanan ini, semua yang ada dan telah mengakar dalam jiwa masih seumur jagung. Tapi yakinlah, ini apa adanya. Tanpa mengurangi dan menambahkan sedikitpun. Karena bintang kejora telah mengajarakanku untuk selalu menjadi diri sendiri meski itu pahit dimata orang lain.

Jikalau kau merasa aneh dan beranggapan gak bakal secepat itu aku bisa suka pada lain jenisku. Wajar saja, aku hanya coba menjadi orang yang berani menghadapi perasaanku sendiri. Bukan menjadi seorang pecundang yang hanya menyimpan perasaannya sendiri dan akhirnya aku mati dengan penasaran. Perasaanku ini adalah nyata terhadapmu, butiran debu yang menjadi nafas dikedalam hariku mengiyakannya. Hanya ada namamu dalam debu yang berantakan. Serangkai kata yang membentuk nama N.M.A.T.De. biarlah tetap menjadi nafas, biarlah hujan tetap turun membasahi bumi dan biarkanlah cinta ini ada dalam hati. Jangan pernah kau hunus dan menjadikannya tiada, sebab aku tak sanggup jika harus terluka. 

       “aku tak lelah akan penolakan, aku hanya letih hidup dalam kesendirian” bagia rumput kecil yang hidup di gurun yang tandus, merasa sepi dan sendiri. Semoga lakumu tak berubah karena secarik pesan malam itu. Semoga senyummu takkan goyah diterpa badai kabut malam yang pekat gulita. Apapun itu akan aku terima, asal saja semuanya baik-baik saja.

                                                                                                               Bogor, 2 November 2012