Selasa, 05 April 2011

Adakah Jawabnya Esok??

Standard

Malam semakin larut
Ketika mata tak menampakkan tanda untuk mengatup
Ketika dingin malam mulai bergerilya menyerang rasa
Bersetubuh dengan raga yang tanpa pelindung berharga

Tak seperti biasa,
Aku masih belum bisa terpejam
Hanya denting jam dinding yang tak pernah bosan menemani
Selaksa daun kering yang enggan gugur dari rantingnya
Sepi mengoyak,

Jauh terasa hati ingin menangis
Merintih akan kepedihan ini
Hilang lalu datang
Kemudian terbang
Pertanda apa ini semua?
Untuk esok dan selanjutnya,

Kulihat malam masih seperti biasanya
Ada apa dengan ini,
Misteri apa yang akan mencuat muncu kepermukaan?
Entah,
Perasaan dan pikiran ini jalan bersebrangan
Entah…..
Adakah jawaban dari engkau Tuhan?
Atas kecamuk malam ini yang bergejolak!


Bogor, 3 April 2011

Jumat, 01 April 2011

Jika Matahari Enggan Menjemput

Standard
Ketika pagi mulai menjemput. Menggantikan malam dengan sebongkah sinar sang surya yang mulai menyibak kabut diatas belantara gelap yang menguntit. Pagi, pertanda semua aktifitas rutin untuk setiap hari akan dimulai. Pertanda matahari akan muncul kepermukaan setelah tertidur sejenak dari tempat peraduan.  Sinarnya yang terang adalah sumber utama semua kehidupan, tumbuhan hijau, ibu rumah tangga, semut yang setip harinya senang bergerilya tatkala sinar membasuh muka bumi untuk mencari mangsa, ayam yang selalu bercumbu ketika matahari mulai terik diatas kepala, dan semua hal yang senang dan bersyukur atas sinar yang telah matahari berikan untuk dunia ini. Betapa penting dan sentral sesosok bola pijar panas yang kerap disebut matahari. Sungguh karunia terindah dan teragung dari Sang Kholikul Alam, Dzat pencipta yang tiada sekutu baginya.
Pernahkah kita berpikir? Jika suatu saat nanti sumber kehidupan itu tiada? Pernhkah kia berpikir sejauh itu? Coba bayangkan saja jika matahari tidak menampakkan dirinya untuk sehari saja. Apa yang akan terjadi? Mengertikah kamu apa yang akan terjadi pada nantinya? Semuanya akan berputar pada porosnya, hanya di satu titik disuatu tempat. Hanya ada kegelapan, kegelapan, kegelapan dan kegelapan dimanapun kita berada. Tak ada sumber cahaya energi kehidupan dimanapun. Dipuncak Mount Everest ataupun di puncak tertinggi Menara Eiffel, Paris sekalipun.
Manusia  pasti mengeluh bahkan mengumpat habis-habisan dengan kata-kata kasar  khas yang mereka miliki. Hari itu juga pasti akan menjadi hari yang mencapai puncak keimanan sebagian manusia untuk mendekatkan diri pada illahi rabby, atas ketakutan dan dosa-dosa yang telah mereka perbuat dan takut masuk kedalam neraka yang begitu merah membara. Takut akan tiadanya kehidupan untuk hari esok yang barangkali belum tentu mereka temui kembali. (hahaha dasar manusia, kalau sudah dekat ajal barulah ingat pada sang pencipta dan memohon ampunan yang tak bisa dibendung lagi). Bukankah pencapaian yang akan kalian harapkan itu sia-sia?
Jika matahari jadi tak muncul, aku yakin pasti akn banyak korban yang berjatuhan. Puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan sampai trilyunan nyawa akan melayang begitu saja. Mengalahkan dahsyatnya kematian korban perang dunia pertama dan kedua. Bisa juga hal ini akan tercatat didalam Guines Record Of Tata Surya. Apa kalian tak percaya? Mungkin kalian (pembaca) hanya menganggap sebagai kelebay-an dari penulis yang notabene menyabet gelar pengurus ter-alay pada kepengurusan CSS MoRA IPB tahun ini (2010/2011) semata. Sebuah penegasan, bahwasannya hal ini bukan karangan dan tidak mengada-ada, bukan fiktif semata. Hal ini didasarkan pada uji hipotesis yang abash dan akurat melalui peramalan dan peluang kehidupan dan juga didasarkan atas wangsit dan tapa selama tujuh hari tujuh malam di gua selarong tanpa makan dan minum. Daripada kalian tidak percaya lebih baik akan saya jelaskan melalui rumus yang sederhana ini.
Asumsikan bahwa :
Tidak ada Matahari = Malam
Deskripsi singkat : Ketika malam tiba para hewan malam mulai bekerja sesuai profesi (ada paduan suara, mencai makan, nongkrong, vocal group, dan lain-lain)

Malam = Hewan bekerja terus tanpa henti
Deskripsi ; Hewan-hewan menegerahkan seluru kemampunnya untuk bekerja semaksimal mungkin untuk menghabiskan seluruh energinya mencapai apa yang dicita-citakan malam itu. Karena waktu yang mereka miliki sangatlah singkat sebelum matahari pagi menampakkan sinarnya kembali.
Hewan Bekerja tanpa Henti = Peraturan Perundangan Hewan NO. 28 Tentang Kewajiban Hewan Malam.
Deskripsi : Peraturan perundangan no. 28 berbunyi “Kewajiban hewan malam untuk melakukan kegiatan ketika malam hari tiba secara maksimal tanpa henti dan DILARANG kembali lagi kesarang sebelum matahari terbit, dengan alasan atau kepentingan apapun. Jika terjadi pelanggaran diatas akan dikenakan sanksi tidak boleh keluar malam selama tujuh abad dan di usir dari sarang ketika matahari mulai terbit”
Matahari Tidak Terbit = Peraturan Perundangan No 28 Berlaku
Deskripsi : Ketika matahari pagi tidak terbit maka peraturan perundangan  berlaku dan para hewan dengan energy yang sudah tidak ada (habis) harus tetap menjalankan kewajiban yang sudah tertuang dalam perundangan tersebut, tanpa alasan apapun dan komplain sedikitpun. Hal ini berarti akan terjadi kerja mereka ditambah 12 belas jam lagi (mereka akan bekerja selama 12 jam tanpa energy sedikitpun yang tersisa).
Peraturan Perundangan Hewan No 28 = Kematian
Deskripsi : Bekerja tanpa energy sedikitpun dan terforsir akan berujung dengan kematian yang tragis. Hal ini dikarenakan tidak ada suplainya asupan energy untk melakukan kerja sehingga mereka akhirnya lelah, pingsan dan akhirnya mati.
Jadi hipotesis yang saya (penulis ajukan) TERBUKTI dengan pertimbangan dan rumus sederhana diatas akan terjadinya kematian masal yang mengerikan dan mengalahkan rekor perang dunia pertama dan kedua. Hal ini mengacu terhadap kuantitas hewan malam yang hidup didunia ini sangatlah tak terhitung jumlahnya. Sehingga kematian yang disebabkan oleh tidak munculnya Matahari sebagai sumber kehidupan adalah sangat banyak bahkan tidak terbatas trilyunan bahkan sampai tak hingga jumlahnya. Apakah kalian masih tak percaya? Semoga saja tidak!
Inti dari pembelajaran ini adalah bersyukurlah kalian atas nikmat yang telah Sang Kuasa yang telah memeberikan secara Cuma-Cuma tanpa membayar sepeserpun. Masih bisa menikmati indahnya pagi ketika matahari terbit di ufuk timur. Tambahlah ibadah dan ingatlah selalu kepada Dia (Sang Pencipta) kehidupan yang hakiki. Karena kita hanyalah kumpulan benang rantas yang juga koyak kelak. Bukan Tuhan yang butuh kita, tapi kita yan butuh Tuhan! Camkan dan renungkan dipikiranmu sampai tingkat ketujuh. Semoga bermanfaat…. Hahaiiii

Jumat, 25 Maret 2011

Perempuan-Perempuan Masa Silamku

Standard
Setiap inchi kehidupan yang terlewati menyimpan beribu kenangan yang tak bisa dilupakan. Bukan berarti setiap orang ingin mengingat dan membuka setiap berkas kehidupan yang pernah dia jalani untuk sebuah keterpurukan. Melainkan membuka dan mengingat memori yang pernah ada. Tentunya bermacam cerita antara kebahagian dan kepedihan, ataupun pengkhianatan dan janji suci. Semuanya  melebur menjadi sebuah bingkisan indah kisah dimasa silam. Begitu pula denganku, berbagai cerita hadir dan menemaniku dalam guratan waktu yang terus bergulir. Begitu indah cerita yang memebuatku terpana, betapa sakit rasa yang membuatku terpuruk dalam lubang kenistaan. Namun bagiku semuanya adalah pembelajaran.
Begitu banyak cerita, begitu banyak warna yang tersirat dalam arti sesungguhnya. Sedikit bercerita tentang masa laluku dan perempuan-perempuan yang pernah mengisi kekosongan hatiku. Seberkas sinar yang mereka bawa dan mengajariku bagaimana caranya mencintai dan dicintai seseorang. Menjadikan aku sebagai manusia yang beruntung diatas semua hal dengan kekuatan cinta dan kasih yang tiada tara. Ketika duniaku mulai gelap tak kurasakan lagi secercah sinar sedikitpun datanglah seseorang bidadari dengan kepakan sayapnya yang mengulurkan jalan menuju kedamaian diatas pelangi bersamanya. Perempuan itu adalah dia (Lala) aku sering menyebutnya demikian. Gadis yang membuatku bertahan dalam perih yang mendera.
Pagi Berdua di Puncak Gunung Bromo Malang, Jawa Timur

Entah bagaimana ini bisa terjadi padahal semuanya terasa tidak mungkin bahkan terlalu tinggi untuk menggapai perasaan dan hatinya. Bahagia dan beruntung sekali walaupun aku tak bisa mendapatkan cinta dan kasihnya. Satu hal yang pasti aku dapat petik dari sini, dialah yang telah membawa aku pergi dari lubang gelap keterpurukan dengan sayap-sayapnya yang terus mengepak. Kini aku hanya bisa mengingat dan membongkar semua memory tentangnya, tentang seorang gadis yang berhasil membawaku jauh dari penat dan gulana yang menguntit. Aku berterimakasih akan semua hal yang pernah engkau bawa untukku di masa-mas sulitku waktu berseragam putih abu-abu.
Berbeda dengan Lala, satu lagi kisah yang pernah aku rajut diatas pusara bumi ini yaitu dengan dia Anita Faizatun Magfiroh (sekar ayuning ratri). Dia adalah adik kelasku, awal mulanya tiada kutahu dan mengerti semua bisa terjadi. Seperti apa yang banyak orang bilang bahwa cinta itu datang dan pergi tnpa kita ketahui kapan mula dan akhirnya, berlalu begitu cepat dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun dan dengan siapapun. Seperti itulah rasa cinta itu mulai muncul dan menyelinap diantara koridor hati yang gelap. Mula-mula muncul, mengalir dan mendarah daging bersama aliran darah yang mengalir dalam tubuh ini.

Anita faza aku biasa menyebutnya, entah apa yang bisa aku lakukan dan berikan untuknya hanyalah perasaan dan hati untukknya. Kepercayaan dan saling menjaga, tak lebih dari itu. Gadis yang dengan rela hati aku tinggalkan ke daerah yang berbeda hanya untuk menempuh studi S1 ku. Inilah kali pertamanya aku melakukan LDR (Long distance relationship). Berat memang jauh dengan orang yang kita cintai. Tapi ketika cinta dan komitmen telah berbicara aku dan dia hanya bisa menerima sekaligus menjalaninya. Terkadang perasaan rindu yang menggebu dan meronta tiba-tiba muncul ketika ku melihat sepasang kekasih sedang berdua bercanda tawa dan berbagi kasih. Tapi apa daya aku ada jauh disini, sedangkan dia ada disana terpisahkan jarak antara aku dan dia. Hanya saja kecangihan jaman yang cukup membantuku untuk mengobati rinduku padanya. Suara lirih dan tawanya renyah yang terdengar dari balik telepon yang bisa sedikit mengobati rasa ini.
             Entah apa dan kenapa hubungan yang ku retas bersamanya begitu saja berakhir tanpa alasan yang jelas. Berakhir beitu saja! Sampai saat ini, apa yang membuat hubunganku berakhir dengannya hanyalah tinggal sebagai sebuah pertanyaan besar yang menyelundup di benak pikiran ini. Padahal usia hubungun kami tidaklah terlalu muda dan terlalu cepat untuk berakhir. Menginjak usia satu tahun ketika komitmen tersebut terucap dari kedua bibir kami semenjak kami melakukan hubungan jarak jauh. Entah ada angin badai apa yang berhasil memporak-porandakan hubungan kita berdua. tapi yang pasti terimakasih untuk kesempatan yan telah kau berikan untukku berbagi manis dan pahitnya kehidupanku yang pernah ada dan terjalani. 
 
 
Bogor, 26 Maret 2011


Rabu, 23 Maret 2011

Perempuan-Perempuan Masa Silamku

Standard

Setiap inchi kehidupan yang terlewati menyimpan beribu kenangan yang tak bisa dilupakan. Bukan berarti setiap orang ingin mengingat dan membuka setiap berkas kehidupan yang pernah dia jalani untuk sebuah keterpurukan. Melainkan membuka dan mengingat memori yang pernah ada. Tentunya bermacam cerita antara kebahagian dan kepedihan, ataupun pengkhianatan dan janji suci. Semuanya  melebur menjadi sebuah bingkisan indah kisah dimasa silam. Begitu pula denganku, berbagai cerita hadir dan menemaniku dalam guratan waktu yang terus bergulir. Begitu indah cerita yang memebuatku terpana, betapa sakit rasa yang membuatku terpuruk dalam lubang kenistaan. Namun bagiku semuanya adalah pembelajaran.
Begitu banyak cerita, begitu banyak warna yang tersirat dalam arti sesungguhnya. Sedikit bercerita tentang masa laluku dan perempuan-perempuan yang pernah mengisi kekosongan hatiku. Seberkas sinar yang mereka bawa dan mengajariku bagaimana caranya mencintai dan dicintai seseorang. Menjadikan aku sebagai manusia yang beruntung diatas semua hal dengan kekuatan cinta dan kasih yang tiada tara. Ketika duniaku mulai gelap tak kurasakan lagi secercah sinar sedikitpun datanglah seseorang bidadari dengan kepakan sayapnya yang mengulurkan jalan menuju kedamaian diatas pelangi bersamanya. Perempuan itu adalah dia (Lala) aku sering menyebutnya demikian. Gadis yang membuatku bertahan dalam perih yang mendera. 

Bukankah Kuasa Tuhan Itu Indah

Standard
Berdiri diatas padang ilalang yang tumbuh meninggi
Diantara hijau daunnya yang mulai menguning
Jatuh dan terjatuh dikubangan yang sama
Berulang kali dan tak dapat kuhitung kembali
Entah filosofi apa yang terbaca diantara derai yang mengalun

Bukankah sang pujangga telah mati
Diujung malam yang mulai menurunkan kabut badai?
Bukankah semua syair telah terurai
Diantara suara dentuman air yang jatuh dari ketinggian?

Bukankah telah lahir amarah dikala fajar terbit
Bersenggama pada liang birahi yang tak dapat dia kecup?
Bukankah sang nahkoda sedang memutar haluan ke utara
Menuju gerbang pulau harapan tanah merah?

Bukankah semua yang ada adalah pilihan!
Bukankah semua yang terjadi adalah takdir!
Bukankah semua yang tercipta adalah nyata!
Bukankah semua yang menjalani adalah insan!
Bukankah semua yang mengada adalah memang ada!
Bukankah kuasa Tuhan adalah indah!

Bogor, 23 Maret 2011

Selasa, 22 Maret 2011

Semoga

Standard

Pusara gelombang lautan
Menyerpih segala luka
Mahkota balutan cerita
Indah gelora menggapai bualan

Apa yang teralami kini?
Mungkin hanya sketsa bertepi diujung hari ini
Ataukah lautan duka ini akan mengakar abadi
Melewati hari-hari yang belum terlewati

Entah kepura-puraan atau ketidaktahuan
Harus kutanamkan dalam hati
Hingg tak mampu terucap
Akankah mimpi tetap menjadi ilusi?
Yang tak bisa menyepuh arti

Semoga indah menegur arti
Diujung malam yang hening ini
Bertabur ceria penghunus gulana
Semoga….