Selasa, 17 Mei 2011

Aku Percaya Kamu

Standard

Banyak keadaan,
Dimana aku diam,
Dimana aku tertawa,
Dimana aku bercanda,
Dimana aku tersenyum,

Aku tak ingin menjadi pembatas,
Tembok penghalang untukmu,
Bukan untuk mereka atau siapapun,
Bawalah kemana dirimu mau,
Kemanapun….
Tanpa adanya jaring-jaring yang menjerat…

Aku tahu bukan penentu..
Kamu sendiri tahu dengan keadaan yang ada,
Baik, buruk, kepercayaan dan kekonsisten,
Yang tak perlu ku definisikan dan ku ajarkan…
Karena aku percaya kamu…
Hanya itu yang aku inginkan tanpa dialektika yang harus terkembang,
Sederhana…
Sesederhana kicauan pipit yang dipagi hari…

11:52 Ciputat, 16 Mei 2011

Rabu, 11 Mei 2011

Sehingga, seolah, sekian dan hanya

Standard

Sehingga malam teruslah malam,
Sehingga pagi menyibak pekatnya malam,
Sehingga siang menuntaskan embun basah di dedaunan
Sehingga sore menyepuh asa yang terbang entah di senja kedamaian

Seolah bintang enggan bersinar
Seolah pipit bosan berkicau
Seolah matahari kian malas menyinari bumi
Seolah mata-mata senja tertidur diatas pasir kuarsa

Sekian tak dijumpa ilalang kering diatas gurun waktu
Sekian bertemu malaikat pencatat amal
Sekian biarkan semua luka itu terenggut
Sekian bercanda dengan bualan dan khayalan

Hanya seonggok sampah yang tetap terdiam disudut pasar
Hanya segenggam harapan yang masih menyala
Hanya sepatah kata yang dapat terucap
Hanya kematian yang dinanti para pemilik nyawa

Ha..ha..ha..ha..
Sehingga, seolah, sekian dan hanya yang mengalir
Bukan kalimat dialektis ataupun traumatis
Apalagi ingin bersikap apatis cenderung skeptis
Sehingga, seolah, sekian dan hanya
Sekumpulan kata entah dating dari mana
Dikamar yang mulai berdebu dan penuh asap rokok
Muka lusuh di depan barisan penyamun
Kosong hanya kosong yang menerjemah

Bogor, 11 mei 2011  

Senin, 09 Mei 2011

Pagi Jingga Ciputat

Standard
Pagi ini mendung
Entah seperti biasanya ataukah tidak seperti ini
Seperti yang kutahu sebelumnya saat kuberada dikota studiku
Pagi ini Nampak tak ada sinar sedikitpun
Namun masih ada cahaya yang menyeringai
Di kota metropolitan tempat akuy menulis ini sekarang
Entah hanya sekedar buaian ataupun iseng tak karuan

Banyak kata yang ingin aku ucap,
Namun entah kemana perginya kata-kata itu
Apakah tersembunyi di balik kabut pekat pagi ini
Atau terbawa bersama rintik air yang turun membasahi bumi?

Banyak hal yang seharusnya dapat terurai
Namun entah karena apa aku tak dapat mengurainya
Sepertinya ada sesuatu yang mengikat dan terikat
Entah apa yang terjadi
Namun yang pasti kemarin, hari ini dan esok tak bisa begitu saja aku lupa…

Melihat senyumnya yang manis,
Seperti sketsa fajar jingga yang terlukis
Ahhh.. sudah lah tak mampu aku mengurai semua keindahan yang telah dia cipta…
Untukku.. hanya untukku….

Ciputat, 08 mei 2011

Hanya Bidadari Yang tahu Jawabnya

Standard

Waktu terus bergulir
Setelah kata di balik telepon itu terakhir terucap
Seperti rintik gerimis yang kunanti hadirnya
Diatas malam yang bertabur bintang gemintang

Harapan itu masih ada…
Entah kosong atau isi…
Lukisan perasaan yang mengentah berwarna apa?
Entah cerah ataupun bakal hitam mengundang
Tarian kuas diatas altar kanvas yang akan mulai tersisipi
Diantara rongga-rongga sempit berbelah

Malam ini, entah senan, lega atau gulana yang tercipta
Hanya sesungging senyum yang aku dapati
Entah arti apa yang tersirat…
Dibalik senyum yang dia tawarkan…

Aku terus berpikir keras,
Diantara mahlgai dengungan asmara yang menggebu…
Sesekali aku tertahan…
Sesekali aku ingin berlari…
Kenapa aku tak mengucap langsung…
Dihadapnya, didepan matanya yang membiaskan sinar kebiruan…

Memang benar adanya
Aku tak mampu berucap
Seperti halnya sebuah pesan yang kukirimkan untukmu
Pesan yang mengantarkanmu dibuai oleh tempat peraduan
Tertulis ;
“sebenarnya, banyak kata yang tak bias terucap dan terurai”
“telingaku tuli, lidahkupun kelu”
“seandainya aku berandai, mungkin semuanya adalah andai-andai semu”
“entah karena apa? Dan kamu pasti Tanya mengapa?”
“aku buka orang yang pandai mengucap apalagi mengurai”
“Sebenarnya apa makna kata yang kuurai ini”
“sebuah terjemahan yang mungkin tak lebih berharga dari sampah”
“Entah”
Akhir pesan yang kutuliskan…

Semuanya kuserahkan padamu,
Pada Tuhan yang menciptakan rasa ini,
Pada malaikat yang telah diutus untuk menbarkan benih ini,
Benih cinta yang tak dapat kutebak kapan datangnya….

 Hanya Bidadari yang tahu akan jawabnya…

00: 17 WIB, Ciputat 09 Mei 2011

Rabu, 04 Mei 2011

Sekilas Bayangmu

Standard

Sekilas hanya bayang-bayangmu yang selalu ku ingat
Bayang-bayang bidadari yang pernah kulihat terbang diantara sinar bintang
Singgah dan bernyanyi di bulan sabit
Nyanyiannya indah, merdu menggetarkan hati

Sekilas senyummu selalu terulas
Senyum seorang bidadari yang entah diturunkan untuk siapa
Pekat malam tak bisa menutupi sinarnya
Sinar binar mata yang indah nan mendamaikan

Sekilas tawamu yang selalu mengalir
Entah kapan waktu terakhir ku mendengarnya
Tawa renyah penghibur hatiku yang lara
Pengusir penat yang menyemat hingga menggumpal

Sekilas, hanya sekilas namun tak terbatas
Sekilas yang menjadikan aku kuat dalam hari-hariku yang berat
Sekilas yang menjadikan aku tegar dalam jelmaan  sekarat

Kapan aku bisa bertemu dengannya…
Terbang bersama diatas garis khatulistiwa
Berdiri diatas batu karang menikmati senja berdebur ombak
Terbangun bersama diselimuti kicauan pipit pohon cemara

Perasaan deru-menderu berkhayal setitik buih dilautan
Semoga saja jumpa menjemput nyata
Entah kapan dan bagaimana
Semoga saja Tuhan mendengar ini
Pertemuan antara aku dan denganmu,
Bidadari yang baru sekilas aku menatapnya….

Bogor 3 Mei 2011

Minggu, 01 Mei 2011

Refleksi

Standard

         Selalu ada titik air di sudut jendela mataku jika kupanggil memory tentang kisah merah jambu atau gubuk tua kedalam pikiranku. Ribuan bayang melesat-lesat didepan kedua bola mataku. Bayang yang serupa wajah berupa mimik-mimik. Tawa, senyum, harap, tangis semua jadi satu tergambar dalam satu kali tarikan nafas saja. Aku hanya duduk termenung, menatap rintik-rintik hujan dibalik daun jendela kamar. Rupa-rupa mimik telah merasuk kedalam pikranku, merembes hingga hatiku, tetes demi tetes.
         Sejenak jam dinding berdetak beresonansi dengan detak-detak jantungku mengaburkan bayang-bayang itu satu per satu. Sesegera kukemasi butir-butir embun yang menempel disudut jendela mataku. Mengelapnya dengan beberapa buah kedipan. Berharap cahaya sang fajar dapat segera menembus kehampaan. Roh-roh ribuan bayang telah lebur dalam dariku menjelma menjadi bara yang menghangatkan tiap rongga-rongga tubuhku.
       Sang mata elang berkompromi dengan hati nuraninya sendiri. Ketangguhannya menantang congkaknya dunia terlewat batas kewajaran. Dia masih punya asa, punya jiwa, sekejap hatinya terpanggil dalam gaibnya tali darah. 

Bogor, 27 April 2011