Rabu, 26 September 2012

Bunga Mekar Taman Sebelah

Standard
Untuk bunga mekar yang ada ditaman sebelah,
Nampak begitu indah dan berseri diantara padang ilalang yang menjulang tinggi...

Kehidupan memang seperti itu,
terkadang yang dianggap kecil dan tak berguna, mereka menyimpan beribu keindahan yang membawa kedamaian bagi jiwa.Terlihat diantara kerumunan yang beringas. Lakunya tetap saja anggun dan pasrah akan semua yang coba mencabutnya.Dia tidak ingin lebih tinggi dari yang lain. Tetep saja dia seperti itu, meski pedih dan perih datang mendera.Tak peduli kesakitan dan tangisan yang hadir dalam bayangnya.



Meski yang dia dapatkan adalah luka, dia tetap berusaha memberikan keindahan untuk mereka yang lain. Karena dia yakin, segala sesuatu yang buruk tak pantas untuk dibalas dengan keburukan. Justru sebaliknya, jikalau kau mendapat keburukan. maka balaslah dengan kebaikan. Kalau perlu ibarat kata "Jika kau ditampar pipi kananmu, maka berikanlah pipi kirimu untuk mendapatkannya pula" dengan begitu semuanya akan terasa indah :) 

Love Someone

Standard
ini yang gue alamin dan susah buat gue terjemahin untuk saat ini......
Pertama2 gue gak bisa bilang apa2 ketika ngederin lagu ini, kenapa ? gue ngerasa ini lagu tuh gue banget....
Lagu ini yang ngebawain tuh "Endah feat Rhesa" yang judul lagunya "When you love someone". Apalagi pas nyampe lyric ini nieh..

I used to hide and watch you from a distance and i knew you realized
I was looking for a time to get closer at least to say… "hello"

hmmm, ngegambarin diri gue banget dah sama yang gue alamin saat ini. Gue yang hanya bisa duduk dan melihat dia lewat dan tertawa riang dengan teman2nya disudut kampus. Kapan gue bisa deket dan jalan ama dia yah?


Selasa, 07 Agustus 2012

Seorang itu mungkin (dirimu) dalam senja

Standard

Harusnya aku tahu…
Harusnya aku mengerti…
Apa yang kamu inginkan,
Aku tahu dan sudah cukup tahu
Bahwa kau inginkan membuatku jauh,
Mengektradisi diriku kepulau terpencil
Jauh…. Jauh sekali disana,

Aku bukan sebuah peri tanpa serbuk ajaib,
Aku rerumputan tanpa tanaman,
Semua gersang… semua hilang,
Menjauh, sangat jauh dan aku tak bisa menggapaimu…

Wahai purnama yang tertutup kabut pekat malam ini
Wahai bintang gemintang yang tak pernah berhenti bersinar,
Dalam balutan kasih yang ringkih,
Di setiap jejak jemari tanpa arti,
Dalam langkah kaki yang tak arah tujuannya,

Dan langit bersenandung pada awan,
Agar menjatuhkan hujan
Pada rumput kering dan gersang
Sebelum akhirnya jatuh setetes api dari tangkai pinus
Dan manusia adalah binatang berakal
Yang membuka gerbang neraka
Memanggil manggil nama Tuhan
Yang tergantung dilangit tanpa sayap

Seorang itu mungkin (dirimu) dalam senja


Banyuwangi, 6 Agustus 2012
01:31 Senin Pagi

Power from Emak (pegawai borongan bagian kupas kulit udang)*

Standard

*penulis adalah mahasiswa aktif IPB jurusan Teknologi Hasil Perairan dan Anggota Community of Santri Scholar of Ministry of Religious Affairs dan sekaligus Editor i(dot).com Magazine

Senyum itu. Meski tertutup oleh masker yang setiap harinya melekat saat jam kerja dimulai sampai selesai waktunya. Aku yakin senyumnya adalah senyum yang terindah untuk menjalani kehidupan. Mencari tambahan nafkah untuk keluarga dan kehidupannya supaya lebih baik kedepannya. Kerutan dikeningnya ternyata tidak menyurutkan semangatnya bekerja. Umurnya yang kira-kira paruh baya tidak dijadikan alasan untuk duduk manis dirumah dan menikmati masa tuanya. Yah, entah siapa namanya yang jelas banyak yang memanggilnya “emak” termasuk juga diriku yang turut serta memanggilnya demikian.

Sederhana, penuh keceriaan dan tak pernah mengeluh meski di usianya yang tidak muda lagi. Beliau adalah sesosok wanita yang kuat. Salah satu Kartini masa kini yang tersisa. Akhir-akhir ini aku sering sekali memantu beliau di bagian pengupasan. Beliau bekerja sebagai pekerja borongan pengupas kulit udang di salah satu pabrik cold storage dan ekspor udang di ujung timur negeri ini tepatnya di daerah Banyuwangi. Aku akhir-akhir ini leih senang menghabiskan waktu Praktek Lapang dibagian pengupasan satu meja dengan “emak”. Entah rasanya ada rasa nyaman dan semangat yang emak tularkan kepadaku. Banyak pelajaran yang secara tersirat dapat ku petik dari emak. Humoris salah satunya membuatku betah menjalani PL dengan emak dibagian ini.

“hahaha… lha ayo cepet dibelah nduk* urange” kelakar emak dengan sifat latahnya yang membuat orang satu meja sontak tertawa. Meski umur telah menjadikan emak tua namun semangat emak yang membara seperti panglima perang tahun empat puluh lima silam masih terasa. Itu salah satu yang aku kagumi dari emak.

Just do it, smile, joke and joy jadikan dia teman setia dalam hidupmu. Tears, sorrow and shadow jangan dijadikan alasan sebagai  penghambat kita adalah kunci hidup yang aku ambil dari emak. Sebuah pelajaran berharga yang dapat ku jadikan sebaga pembelajaran yang tak bisa diukur dengan nilai sebongkah emas sekalipun. Guru bagiku. Senyummu dan candaanmu tak akan aku lupakan sampai kapanpun. Terimakasih emak telah mengajarkanku arti hidup yang sesungguhnya.
Note :
)* nduk (jawa red): panggilan kepada anak perempuan dalam bahasa jawa
Banyuwangi, 3 Agustus 2012

Jumat, 13 Juli 2012

TABLO & DOCLO (ternyata....)

Standard

Aku ingin menceritakan dia. Entah darimana aku harus memulainya. Semuanya terasa gelap bahkan menghimpitku hingga sesak. Aku tahu pelangi itu indah. Kombinasi warna yang cantik membentuk setengah bola. Merah, kuning, dan hijau tampak lebih dominan daripada warna lainnya. Aku tahu menara Eiffel itu ada di Paris Perancis meski tak sempat ku bersua dan bercerita padanya. Aku tahu, matematika itu ilmu pasti. Aku tahu, aku tahu semuanya. Bahkan ketika kalian mati nanti aku tahu kalian akan berada dimana. Aku rasa cukup dengan semua rasa tahuku. Sekarang aku ingin memulai cerita tentang ketidaktahuanku untuk menceritakan tentang dia.

Aku menyebutnya Doclo, aku mendapatkan ini dari dia. Dia yang sering mengucap doclo meski tak tahu penjabaran dan penjelasan ilmiah yang mendalam. Entah berasal dari negeri mana asal muasal kata ini. Mungkin dari negeri antabrantah yang tak jelas disana atau mungkin dari keraton tempat para raja bersama selirnya menata kekuasaannya. Ah, sudahlah tak penting bagiku dan bagi kalian apa arti sebenarnya kata DOCLO ini. Biarkan saja, toh ini tidak mempengaruhi kehidupan dan uang tabuangan kalian di bank bukan? Makanya kita tinggalkan dan lupakan saja kata ini. Biar dia membusuk di dalam ingatanku. Meski kutahu kata ini tak akan busuk dan hilang dimakan waktu.

Aku ingat, satu lagi kata-kata yang dia ucap dan sering muncul dilayar telepon genggamku. TABLO (tampang Blo’on) kalau arti kerennya sih, “muka loe jauh”. Ha..ha..ha..ha.. gak nyambung sama sekali bukan. Bukan tugasku menyambung kata dan isi yang ada ditulisan ini. Tugasku hanya mengetik kata demi kata dan kususun menjadi sebuah paragraph narasi. Tanpa kupedulikan isinya bagaimana dan seperti apa. Biarlah para pembaca yang budiman nan pandai menerjemahkannya dalam bahasa masing-masing. Ha..ha..ha (penulis belajar gila) padahal orang gila saja pengen sembuh. Kata ini sering kuterima darinya. Pantas mungkin aku menerimanya. Singkatan yang dibaca terdengar keren padahal artinya sangat mengecewakan dan mengharukan kalau dihayati (ah dasar penulis lebay).

Tak usah aku sebutkan siapa namanya. Kalaupun kusebutkan kalian pasti tidak akan tahu karena bukan artis terkenal sekelas Agnes Monica dengan suara emas dan pengalaman di dunia tarik suara yang tak bisa diragukan lagi atau Aura kasih yang cantik dengan tubuh yang jenjang menjulang seperti gedung pencakar langit yang ada di Jakarta. Dia gadis kecil namun terlihat besar, bukan karena ukuran badannya berat tubuhnya. Melainkan baju putih bu-abu yang masih dia kenakan sampai sekarang. Dia sederhana, menurut pandanganku yang sejauh ini terlihat dari sudu pandang penerawangan mata batinku ketika bersama dia ataupun dari caranya menjalani hari (untuk penulis, “sekali lagi loe lebay, gue buang ke laut tulisan loe”).
Aku gak tahu harus bagimana menyebut semua ini. Takut salah sebut dan dapat menimbulkan bencana sekaliber gempa yang menggoncang jogja bebrapa tahun silam dan seluas lumpur lapindo yang merendam rumah warga sidoarjo dan penyelesaian maslah yang tak berujung. Harapanku dia gak tahu dan gak baca tulisan ini. Karena aku malu dan gak terima kalau dia baca ulisan ini. Bukan karena apa-apa, aku takut dia terlalu senang dan kemudian loncat kegirangan lalu mengambil handphonenya dan mengetik kata “apa-apaan sih lau? Doclo geje? Maksudnya apa ini?” lalu mengrimkannya padaku. Hadehhhhhhhhh, jangan dah. Aku belum siap buat itu semua. Badanku dan hatiku udah terlalu rapuh untuk mendengar ocehannya yang sering kurindukan (cieeeeehh, kayak lagunya d’ masiv aja yang judulnya merindukanmu). Tak apa juga sih kalau di baca tulisan ini. Gadis pemilik kata DOCLO dan TABLO yang gak jelas. Ha..ha..ha..ha (terun tuk dia : maaf ya, kata-kata loe kupakai ditulisan buat ngisi blog).

Dia lucu, imut, gajelas dan kadang menyebalkan banget tingkah lakunya. Gak terlalu putih bahkan terkesan hitam. Namun itulah yang kunilai darinya. Si dia yang gak pernah bisa kuterka dan kuketahui apa isi hati dan perasaan sesungguhnya. Udahan dulu ya, mengenai ke TABLO-an dank ke- DOCLO-an yang dia hiaskan dalam setiap percakapan singkat. Sederhana memang, sesederhana malam yang ditemani bulan. Sesederhana matahari yang berbentuk bulat dan sesederhana malaikat yang punya sayap.

Sudah cukup kebodohanku menuliskan semua ini. Gak terlalu penting untuk menguraikan dia terlalu panjang. Toh, dia gak bakal membacanya. Biarkan menjadi catatan usang yang menghiasi blog semrawut dan memenuhi postinganku. (Ha..ha..ha..ha..ha). aku tak ingin mengucap selamat tinggal ataupun mengucapkan kata pisah, karena aku yakin aku bakal bersama. Entah itu bersama siapa, yang pasti perpisahan adalah bagian hidup yang paling ku benci dan kulaknat.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
-Kahlil Gibran-

Selasa, 03 Juli 2012

mencintai tanpa arti (hanya lamunan)

Standard
mencintai tanpa arti
bukan berarti aku tak punya kendali akan rasa ini
memang aku tahu pertemuan pertama adalah rasa
pertemuan kedua adalah cinta
dan terkahir pertemuan ketiga adalah luka…
ha.ha.ha.ha.

apa arti dari pertemuan dengan wajah yang saling menatap
apa arti dari senyuman yang biasa keluar dari sunggingan bibir seorang hawa
apa arti malam jika hanyut tanpa sang bulan
apa arti deru yang menciptakan haru

malam kemarin hanya sebuah perjalanan singkat
yang aku yakin akan membuahkna perjalanan panjang tak berujung
ya, kalau dibolehkan dan di izinkan oleh sang maha kuasa tentunya
tanpa mengurangi arti dan melebihkan
aku ingin kamu,

perempuan yang belum lama ku kenal
yang kerap ku sapa namanya “IRA”
entah apa nama panjang
yang jelas aku ingin kamu
meski hadangan dan tantangan ke depan sesulit meruntuhkan menara Pissa

aku tak bermodal
aku cacat,
secacat cacatnya orang yang paling cacat yang pernah terlahir
aku ingin kamu “Ira”
bukannya aku terobsesi atau apalah disebutnya
aku yakin aku bisa meraihmu
meski aku tahu sainganku sangatlah berat
dia punya segalanya

namun apakah cinta harus terbatas oleh dinding gelimang harta
ataukah hanya sebatas ketampanan wajah
kurasa tidak
aku bisa
aku bisa
tunggu aku disana…
tunggu aku hadir dan memelukmu erat tuk kujadikan kekasih hatiku…

Puncak Bogor, 30 Juni 2012

Minggu, 17 Juni 2012

Kenanganku (Aku dan Dia di Rumah Makan Sunda)

Standard

Bercerita tentang masa lalu. Setiap orang pastinya mempunyai masa lalu atau yang kerap disapa dengan kenangan. Kenangan dapat berupa sesuatu yang indah dan kadang juga menyisakan keterpurukan dan kesakitan yang meraja. Keindahan yang tercipta di masa muda sepertiku ini telah mebuatku teringat dengan syair yang di ciptakan oleh Master piece berkelas seperti kahlil Gibran dengan syairnya yang berjudul “Keindahan” berikut sedikit syair yang ku ingat :

Keindahan menjadi milik usia muda,
tapi keremajaan yang untuknya dunia ini diciptakan tidak lebih dari sekadar mimpi yang manisnya diperhamba oleh kebutaan yang menghilangkan kesedaran.
Akankah hari itu datang, ketika orang-orang bijak menyatukan kemanisan masa muda dan kenikmatan pengetahuan?

Berbicara mengenai masa muda, aku pernah mengalaminya. Meski masa muda kini telah beranjak pergi meninggalkanku dengan perlahan. Aku akan sedikit menceritakan masa laluku yang seharusnya telah terkubur dalam pasung kematian. Namun, aku hanyalah manusia yang punya nafsu untuk menggali dan membukanya kembali, hanya sekedar mengingat dan tersenyum sendiri dikala kesepian yang selalu menguntit. Cibiuk, entah dari mana ini bermula. Cibiuk sendiri merupakan nama daerah di Garut yang terkenal dengan kelezatan sambalnya. Terlepas dengan cibiuk yang berada di Garut. Rumah Makan Sunda Cibiuk yang berada di Jalan Buaran, Rawa-Buntu Kelurahan Rawa Buntu, Serpong Tangerang Selatan atau lokasinya bisa dilihat di streetdirectory yang tertera pada gadget streetdirectory.com yang telah saya pasang. Di sinilah kisahku bermula, kisahku sebagai perjalanan masa muda yang berwarna. Aku bertemu dengan dia, dia yang menjadi putri salju dihatiku didaerah tropis negeri Indonesia. (hahaha.. lebay banget yah)
Iya benar sekali tepatnya di sini, rumah makan sunda cibiuk yang ada di daerah serpong ini. Ayam bakar sambal ijo, menjadi menu pilihan yang fantastis. Wajahnya yang berubah menjadi merah jingga tatkala melahap sambal ijo cibiuk. Lucunya dia, dengan pesonanya yang melanggar keindahan dunia. Selain itu juga di rumah makan sunda cibiuk ini terdapat saung yang menjadi kenangan indah tatkala senja mulai menyapa kala itu. Di atas sangung yang langsung menghadap ke sawah ini terlihat jelas lambaian bunga-bunga lili berwarna ungu. Warna kesukaan putrid hatiku, syahdu rasanya melihat pemandangan ini. Apalagi di temani suara gemericik air dari kolam ikan yang ada disekitar saung. Indahnya rumah makan ini mungkin dapat kugambarkan bagian kecil dari keindahan surga yang telah diturunkan kebumi. (haha hiperbola banget yah) yah hanya ini yang bisa aku sampaikan.
Rumah makan Sunda Cibiuk memang mantap dengan kulinernya, ayam bakar sambal ijo dan es teh manis adalah menu favoritku dan dia perempuan yang pernah mengisi kanvas kehidupanku dengan warnanya. Thanks, ini adalah kenangan terindahku bersama dia Rumah Makan Sunda Cibiuk.